Katakan Saja Pada Ibu, Semua Pasti Beres
Fragmen 1
Saya pernah bertanya pada seorang bapak-bapak yang dirawat di rumah sakit, sewaktu saya sedang dinas menjadi dokter muda di rumah sakit itu,
“Bapak merokok?”
“Sudah berhenti,” katanya dengan suara lemas.
“Sudah lama berhentinya?”
“Dua puluh tahun.”
Wow… komentar saya dalam hati saja.”Kok bisa tahan Pak?”
“Saya yang larang, Dok.” Tiba-tiba istri bapak itu menyahut.”Udah darah tinggi, gula darah, mau jadi apa kalau masih merokok? Trus kalau dia merokok terus, anak di rumah juga jadi batuk-batuk.”
Diam-diam saya mencatat dalam hati. Rokok bisa menang menghadapi seorang laki-laki, tapi tidak seorang ibu.
***
Fragmen 2,
Saya ikut seorang teman untuk mengadakan penelitian di sekolah. Sederhana saja, tentang kesehatan reproduksi. Bla bla blanya adalah, tentang pengetahuan siswi-siswi SMA mengenai hal-hal yang berkaitan dengan menstruasi dan keputihan.
Pertanyaannya seperti ini:
Tahukah kamu apa itu keputihan?
Keputihan adalah… (pilih satu)
Berapa lama siklus menstruasi yang normal?
dst…
Nah, setelah mengecek beberapa kuisioner, hampir ketahuan bahwa sekitar 80% siswi SMP itu tidak tahu apa-apa tentang menstruasi dan keputihan! Oow… kok bisa ya? Padahal udah langganan tiap bulan.
Selidik punya selidik, mereka memang jarang mendapatkan penyuluhan tentang masalah kesehatan reproduksi di sekolah. Maklum, bukan sekolah beken atawa sekolah unggulan.
Nah, jadi dari sekian banyak siswa yang bengong melompong menjawab soal-soal itu, saya menarik satu kuisioner dengan tulisan rapi, dan mendapati satu hal: hampir 90% jawaban benar.
“Siapa yang menulis ini?”
Seorang siswi mengacungkan tangan. Saya menghampirinya, memujinya yang tahu banyak hal tentang kesehatan reproduksi. Dia tampak malu.
“Mamak yang ngajarin. Mamak sering ikut penyuluhan di puskesmas dan ngajarin gimana cara menjaga diri.”
Wah, saya tersenyum simpul dan mencatat kesimpulan kedua: Seorang ibu yang mau peduli, bisa mengubah setidaknya satu orang, yaitu anaknya sendiri.
Saya menatap siswi-siswi perempuan yang lain, dan bertanya-tanya apakah ibu mereka tidak pernah mengajari mereka bahkan untuk ganti pembalut setidaknya 3 kali sehari saat menstruasi.
***
Fragmen 3
Saya sedang terkantuk-kantuk di sudut ruang tunggu dokter. Bukan main, padahal pasien yang antri hanya 1 orang, tapi lamanya luar biasa. Saya mencoba menyabarkan diri sambil membaca majalah, mengunyah kue, minum air, makan bakwan… yang belum mengunyah majalah saja.
Setelah puas terkantuk-kantuk, saya memperhatikan seorang ibu di dekat saya, sedang berbicara dengan ibu di sampingnya, topiknya tentang susu formula. Ibu yang satu mengaku memberikan susu formula pada bayinya, karena ASI-nya saat awal melahirkan tidak keluar.
Ibu 1: “Lho, kan sayang Kak. Nanti pertumbuhan dan perkembangannya tidak sempurna.”
Ibu 2: “Habis bagaimana, tidak keluar ASI saya.”
Ibu 1:”Kakak pernah diajari cara memijat agar ASI keluar?”
Ibu 2:”Sudah. Tapi keluarnya sedikit.”
Ibu 1:”Bayi baru lahir kan tidak perlu banyak ASI, Kak. Satu sendok makan sudah cukup.”
Ibu 2:”Wah, masa?”
Saya menyimak percakapan mereka, teringat bahan kuliah kedokteran yang saya pegang malam-malam. Ibu yang satu itu, bahkan lebih ahli dari saya. Tidak ada seorang yang mampu mengajari orang lain sepraktis seorang ibu.
***
Ada banyak kampanye, penyuluhan, seminar atau apapun di sekitar kita. Saya terlibat di dalamnya, menjadi peserta, panitia, atau bahkan pemateri. Saya menyaksikan banyak jenis audiens. Sebagian mengerti, sebagian ngantuk, sebagian lagi tidak menerima.
Ada juga banyak tema yang disuguhkan. Ada yang mudah diterima, ada yang kontroversi, ada yang mudah diterima tapi tidak mudah diterapkan. Sebab mengubah segala hal, termasuk perilaku kesehatan yang sangat substansial bagi hidup pun tidak mudah.
Tapi jika ada kaum yang mudah disentuh untuk menyampaikan, yang menyampaikan pada mereka berarti menyampaikan pada buntut-buntutnya, maka sampaikan saja segala macam penyuluhan pada ibu. Sebab merekalah pihak pertama yang menjaga suami dan anak-anak mereka. Sebab dari merekalah, dimulai sebuah keluarga, tempat dimana segalanya berhulu.
*tulisan ini ditulis untuk mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh Liza Fathiariani dan disponsori oleh Blogdetik , Kamoe Publishing Forum Lingkar Pena Aceh ,Piyoh Design , Rise Up Coffeehouse, Kedai Bandar Buku, falyadesign.com | Your Design Partner”









