Katakan Saja Pada Ibu, Semua Pasti Beres

Fragmen 1

Saya pernah bertanya pada seorang bapak-bapak yang dirawat di rumah sakit, sewaktu saya sedang dinas menjadi dokter muda di rumah sakit itu,

“Bapak merokok?”

“Sudah berhenti,” katanya dengan suara lemas.

“Sudah lama berhentinya?”

“Dua puluh tahun.”

Wow… komentar saya dalam hati saja.”Kok bisa tahan Pak?”

“Saya yang larang, Dok.” Tiba-tiba istri bapak itu menyahut.”Udah darah tinggi, gula darah, mau jadi apa kalau masih merokok? Trus kalau dia merokok terus, anak di rumah juga jadi batuk-batuk.”

Diam-diam saya mencatat dalam hati. Rokok bisa menang menghadapi seorang laki-laki, tapi tidak seorang ibu.

***

Fragmen 2,

Saya ikut seorang teman untuk mengadakan penelitian di sekolah. Sederhana saja, tentang kesehatan reproduksi. Bla bla blanya adalah, tentang pengetahuan siswi-siswi SMA mengenai hal-hal yang berkaitan dengan menstruasi dan keputihan.

Pertanyaannya seperti ini:

Tahukah kamu apa itu keputihan?

Keputihan adalah… (pilih satu)

Berapa lama siklus menstruasi yang normal?

dst…

Nah, setelah mengecek beberapa kuisioner, hampir ketahuan bahwa sekitar 80% siswi SMP itu tidak tahu apa-apa tentang menstruasi dan keputihan! Oow… kok bisa ya? Padahal udah langganan tiap bulan.

Selidik punya selidik, mereka memang jarang mendapatkan penyuluhan tentang masalah kesehatan reproduksi di sekolah. Maklum, bukan sekolah beken atawa sekolah unggulan.

Nah, jadi dari sekian banyak siswa yang bengong melompong menjawab soal-soal itu, saya menarik satu kuisioner dengan tulisan rapi, dan mendapati satu hal: hampir 90% jawaban benar.

“Siapa yang menulis ini?”

Seorang siswi mengacungkan tangan. Saya menghampirinya, memujinya yang tahu banyak hal tentang kesehatan reproduksi. Dia tampak malu.

“Mamak yang ngajarin. Mamak sering ikut penyuluhan di puskesmas dan ngajarin gimana cara menjaga diri.”

Wah, saya tersenyum simpul dan mencatat kesimpulan kedua: Seorang ibu yang mau peduli, bisa mengubah setidaknya satu orang, yaitu anaknya sendiri.

Saya menatap siswi-siswi perempuan yang lain, dan bertanya-tanya apakah ibu mereka tidak pernah mengajari mereka bahkan untuk ganti pembalut setidaknya 3 kali sehari saat menstruasi.

***

Fragmen 3

Saya sedang terkantuk-kantuk di sudut ruang tunggu dokter. Bukan main, padahal pasien yang antri hanya 1 orang, tapi lamanya luar biasa. Saya mencoba menyabarkan diri sambil membaca majalah, mengunyah kue, minum air, makan bakwan… yang belum mengunyah majalah saja.

Setelah puas terkantuk-kantuk, saya memperhatikan seorang ibu di dekat saya, sedang berbicara dengan ibu di sampingnya, topiknya tentang susu formula. Ibu yang satu mengaku memberikan susu formula pada bayinya, karena ASI-nya saat awal melahirkan tidak keluar.

Ibu 1: “Lho, kan sayang Kak. Nanti pertumbuhan dan perkembangannya tidak sempurna.”

Ibu 2: “Habis bagaimana, tidak keluar ASI saya.”

Ibu 1:”Kakak pernah diajari cara memijat agar ASI keluar?”

Ibu 2:”Sudah. Tapi keluarnya sedikit.”

Ibu 1:”Bayi baru lahir kan tidak perlu banyak ASI, Kak. Satu sendok makan sudah cukup.”

Ibu 2:”Wah, masa?”

Saya menyimak percakapan mereka, teringat bahan kuliah kedokteran yang saya pegang malam-malam. Ibu yang satu itu, bahkan lebih ahli dari saya. Tidak ada seorang yang mampu mengajari orang lain sepraktis seorang ibu.

***

Ada banyak kampanye, penyuluhan, seminar atau apapun di sekitar kita. Saya terlibat di dalamnya, menjadi peserta, panitia, atau bahkan pemateri. Saya menyaksikan banyak jenis audiens. Sebagian mengerti, sebagian ngantuk, sebagian lagi tidak menerima.

Ada juga banyak tema yang disuguhkan. Ada yang mudah diterima, ada yang kontroversi, ada yang mudah diterima tapi tidak mudah diterapkan. Sebab mengubah segala hal, termasuk perilaku kesehatan yang sangat substansial bagi hidup pun tidak mudah.

Tapi jika ada kaum yang mudah disentuh untuk menyampaikan, yang menyampaikan pada mereka berarti menyampaikan pada buntut-buntutnya, maka sampaikan saja segala macam penyuluhan pada ibu. Sebab merekalah pihak pertama yang menjaga suami dan anak-anak mereka. Sebab dari merekalah, dimulai sebuah keluarga, tempat dimana segalanya berhulu.

2844455d9b8ed9ce8466fb1edc47d1b9_blogger-kartini

*tulisan ini ditulis untuk mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh Liza Fathiariani dan disponsori oleh Blogdetik , Kamoe Publishing Forum Lingkar Pena Aceh ,Piyoh DesignRise Up Coffeehouse, Kedai Bandar Buku, falyadesign.com | Your Design Partner”

Bahasa Semesta

Ketika saya memulai menuliskan ini, saya sadar bahwa saya menuliskannya dengan hati sesak dan perasaan tumpul.

Ada yang diperas dari hati. Mungkin waktu, mungkin kehidupan, mungkin cita, mungkin impian. Hingga kita lama-kelamaan menjadi selosong kosong yang hampa. Hidup hanya sekedarnya, untuk mati disaat sakit datang menyerang.

Saya takut jadi seperti itu. Saya takut berakhir menjadi orang yang tidak mengenal apa itu impian, apa itu cinta kecuali sekedarnya, apa itu ketulusan, apa itu bergembira dengan segenap rasa, apa itu membagi bahagia… saya khawatir bahwa hidup saya menjadi memadat sehingga saya hanya memandang, tapi tidak melihat. Hanya memperhatikan suara, tapi tidak mendengar. Seperti patung, dia disana, namun hatinya tiada.

Sebab bukankah bahagia itu sebenarnya ada pada penumpuan perasaan? Kita benar-benar melihat, benar-benar mendengar dengan menghadirkan jiwa. Kita menangis mendengarnya, sebab hati kita meresapinya sebagai suatu kesedihan. Kita tertawa lepas, sebab jiwa kita dipenuhi bahagia mendengar denting-denting hidup yang menggelitik. Kita memberengut, marah, lalu kembali berbaikan, sebab hati kita menerima bahwa cinta tidak selalu mulus.

Saya ingin mendengar, cerita mereka yang ingin didengar, tangisan mereka yang sesak tapi tidak bersuara. Saya ingin menggenggam tangan-tangan keriput itu, meyakinkan mereka bahwa hari esok yang baik itu ada, bahwa tubuh yang sehat itu hadir bersamaan dengan semangat hidup yang menyala. Saya ingin melihat tawa mereka yang yakin dengan kesembuhannya, sebagaimana kita menyimak desir dedaunan, nyanyian rumput yang digoyang sepoi, tawa anak-anak TK yang menyeberang jalan…

Sebab kita menerjemahkan semua dengan satu bahasa semesta: Bahagia…

*saat bisa sejenak pulang ke sarang beruang

Menjadi Berbeda

Dear sahabat,

Pernahkah kalian melihat orang cacat mental di jalan-jalan? Atau orang-orang yang bibirnya sumbing, matanya putih berselaput, wajahnya khas mongoloid? Pernahkah kalian berjumpa dengan mereka yang berbeda ini?

Apa yang kalian pikirkan?

Suatu rasa kasihankah? Atau malah rasa tidak peduli? Atau rasa kesal sebab merasa orang-orang ini tidak berguna?

Sahabat,

Dulu sekali, pernah ada seorang pemimpin. Ya, kita sebut saja pemimpin ini bernama Pak Kumis. Pak Kumis adalah seorang pemimpin bengis, dengan kumis tidak tipis sehingga berkesan sadis. Nah, suatu hari Pak Kumis melihat orang-orang cacat ini di jalan-jalan, dan dia berpikir satu hal: Wah, orang-orang ini tidak berguna.

Setelahnya adalah sejarah panjang.

Orang-orang yang berbeda dan tidak pernah mengkehendaki menjadi berbeda ini dibariskan dalam sebuah antrian. Bukan, bukan antrian penerima BLT, ataupun antrian untuk mendapatkan jatah rumah, pendidikan, dan air bersih. Namun antrian untuk dimusnahkan. Ya, Pak Kumis berpikir bahwa orang-orang yang berbeda ini hanya menghabiskan belanja negara saja dengan kehadiran mereka. Maka mulailah sebuah sejarah paling kejam di dunia, tentang menyedihkannya menjadi ‘berbeda’.

Setelahnya, jaman bergulir. Pemerintahan berganti. Pak Kumis berganti menjadi Pak Tanpa Kumis, Pak Rambut Tipis, Pak Kulit Gelap, Pak Algojo, dan Pak-Pak yang lain. Ada begitu banyak pemimpin, ada begitu banyak perebutan kekuasaan, dan sejarah yang terimpit di antaranya.

Kemana orang-orang yang berbeda ini dibawa takdir?

Masih disini, Sahabat.

Sebab mereka ada di jalan-jalan. Mereka begitu banyak, ada di antara kita semua. Mereka menyelip di antara anak-anak yang bersekolah, mencoba mengerti barisan huruf-huruf dalam kekacauan neuron di kepala mereka. Mereka tegak di halte, sulit naik bis sebab tidak mengerti bagaimana naiknya, atau tidak bisa menaiki pinjakan bis yang tinggi itu dengan kaki separo. Mereka juga ada di kepadatan pasar, ingin bersembunyi sebab keriuhan menjadikan tubuh mereka gelisah. Mereka tertawa lebar, makan, mengamuk, menggerakkan anggota tubuh tidak terkendali, mengalami kesulitan belajar, tidak bisa mendapat pekerjaan, dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dianggap gila, dipasung…

Ya, mereka masih hidup, dan mereka di sini. Masih menanti kehidupan membuka warna yang menjadikan mereka bisa ada di sini, diterima dengan segala perbedaan.

*ditulis untuk mengingat Hari Autis Sedunia, 2 April 2012… Mereka masih menanti aksesibilitas terwujud di negeri ini. Kapan itu akan terwujud? Suatu hari nanti, pasti.

Kontemplasi Senja

Mari kita bicara tentang hal-hal kecil.

Di dunia ini, ada sebuah tempat yang sangat penting, muara dari segala hal yang terkatakan dan yang tidak dikatakan. Sebuah ruang, tempat segala sesuatu bisa meluap, lalu kembali ke dasar tanpa ada tanya mengapa. Read the rest of this entry »

Passion

Passionate.

Hidup saya berulang-ulang terbentur pada kata itu. Saya memikirkan kata-kata itu dalam pikiran saya yang berputar-putar.

Sederhananya, saya adalah seorang manusia naif yang hidup atas dasar passion. Atau terjemahannya begini: saya melakukan hanya apa yang saya SUKA. Jika saya sudah BOSAN dan TIDAK SUKA, maka saya akan membuangnya, begitu saja.

Saya hidup seperti itu sepanjang hidup saya. Bergantung hanya pada naluri atas dasar passion, gairah. Apa-apa hal yang saya cintai, saya akan mengejarnya habis-habisan. Selebihnya, ya wassalam.

Hingga suatu hari, Si Rasional berbisik,

“Sst… Ade, sampai kapan kamu akan hidup seperti ini?”

Saya melihat wajah Si Rasional. Tumben-tumben dia serius. Biasanya tidak seperti itu. Biasanya, Si Rasional akan tertawa iseng dan mengajak saya bermain perahu kertas di tepi kali sambil menanti senja menari-nari.

“Sampai aku mati mungkin. Emang kenapa Rasional? Tumben tanya-tanya.”

“Ya, tidak apa. Hanya saja Ade, aku berpikir kalau kamu itu tidak akan pernah bahagia dengan hidup seperti ini. Hanya bergantung pada passion, selamanya.”

Saya agak terganggu. Maka saya duduk dan menatap mata Si Rasional, dalam. “Maksudmu?”

Dia balas menatap saya, dengan tatapannya yang tajam dan cerdas, dan kali ini, tegas. “Kamu bisa hidup seperti ini SEKARANG, Ade. Menelusuri gairahmu, melakukan apa yang kamu mau, menjalani segala yang menarik, bertualang, dan bebas sebebas-bebasnya. Tapi, sampai kapan? Kamu sekarang membuang teman yang tidak kamu sukai, melepas hobi yang kamu bosan, mengacuhkan pelajaran yang menurutmu feodal. Lalu? Kamu akan hidup seperti ini sampai mati?”

Kata-kata Si Rasional menampar saya, telak. Saya hanya bengong menatapnya. Membiarkan jaringan otak saya menyusun jeda, membiarkan beruang madu menghantam sarang lebah untuk memakan madunya, membiarkan semesta menghimpit seekor kutu di kepala seorang maniak, hingga…

“APA BURUKNYA HIDUP SEPERTI INI?!” Saya mendadak menjerit. Nyaris histeris. Tidak saya sangka, Si Rasional bisa mengkhianati saya setelah sekian lama kami berteman. Kemana janji salmon yang kami ikrarkan dulu?

“Tidak buruk, Ade.” Jawab Rasional tenang. “Tidak buruk jika kau senang hidup dengan dirimu sendiri, tanpa punya segala sesuatu yang bisa kau teruskan. Tidak buruk jika kau hanya ingin kebebasan, tanpa memikirkan manfaat yang bisa kau berikan untuk orang lain. Tidak buruk jika kebebasan jiwamu lebih penting dari orang tua, sahabatmu, suamimu, anak-anakmu kelak. Tidak buruk jika engkau menjadikan kebebasan sebagai TUHANMU. ”

Sampai di sini, saya melempari Si Rasional dengan salmon, tulang domba, biri-biri, dinosaurus, emas batangan, BMW, Blekberi, intan berlian, sayur campur, kebab… semuanya! Saya amat sangat marah pada kata-kata kurang ajar Si Rasional. Lalu tanpa mempedulikan Si Rasional yang kegirangan ditimbuni harta, saya segera pergi dengan pikiran sesak dan kepala mampat.

Saya benci Si Rasional! Benciiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Benci!

Saya mengulang-ulang ikrar benci pada Si Rasional berkali-kali, sampai pikiran saya tenang dan saya bisa menalar dengan hati dan merasa dengan otak.

Heh, jangan-jangan Si Rasional benar?

Maka saya duduk di pinggir hutan. Mengunyah sekantung keripik salmon rasa keju semur, berpikir keras. Membiarkan lintasan pikiran datang, menyengat-nyengat semua saraf keberuangan.

Yaaa…

Seumur hidup, saya membaca kisah, melihat orang-orang pergi bertualang, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu daerah ke daerah lain… mereka mencari sesuatu yang sebenarnya mereka sendiri tidak tahu itu apa. Mereka melakukan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu itu untuk apa. Mereka menamainya: KEBEBASAN.

Ya, hidup mereka bergairah. Sangat passionate, menggairahkan. Mereka hidup dalam kegembiraan, penemuan hal-hal baru, kejutan dalam hidup… dan seterusnya, dan seterusnya.

Still, sampai kapan?

Tidak ada yang diteruskan, tidak ada kontribusi. Sebagian cerdas:menanam pohon sepanjang jejak perjalanannya, menulis catatan panjang tentang pendakian dan jalur-jalurnya… namun sebagian hanya mati konyol. Sia-sia dan terlupakan.

Kenapa? Apakah kesalahan jika kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Saya praktis tidak berpikir seperti itu. Seumur hidup, saya lihat banyak orang dewasa yang tidak berbahagia dengan pekerjaan yang mereka lakoni. Tanpa passion, manusia hanya layaknya robot yang menghuni kulit dan daging. Saya tersihir dengan kata-kata bijak seperti “Follow your heart.” “Lakukan hanya yang benar-benar kamu sukai.”, “Jangan terjebak pada penderitaan seumur hidup hanya karena tidak mengikuti hasrat hatimu.”, etc.

Tapi ternyata tidak seperti itu.

Ya, pada titik tertentu, saya menyadari bahwa hidup tidaklah serumit itu. Kenapa? Sederhana saja. Sebab passion seseorang berubah. Dengan perubahan yang amat sangat cepat. Hari ini cinta, besok tidak. Hari ini tertarik, besok bosan. Hari ini semangat, besok garing. Secepat itu manusia berubah. Jika seseorang selalu mengikuti passion-nya, maka dimanakah dan kemanakah dirinya akan pergi saat passion-nya berubah?

Begitu tidak stabilnya passion itu. Maka lagi-lagi perkataan Si Rasional menyerbu ruang benak saya, “Untuk apakah menjadikan sesuatu yang tidak stabil sebagai Tuhan?”

Astaghfirullah…

Ya, kenapa harus menuhankan kegairahan atawa si passion itu? Sementara saya mengerti, bahwa hidup itu bukan hanyalah tentang mengikuti dan menjalani apa yang kita cintai, apa yang kita sukai. Tapi hidup adalah tentang mengabdi, tentang bermanfaat bagi sesama, dan upaya-upaya menyempurnakan pengabdian kita pada Allah, Sang Pemilik Segala Cinta.

Maka dari titik itulah, saya meluruh, jauh jauh jauh.

Thanks pada Si Rasional yang telah menampar saya dengan kata-kata jahatnya.

Lalu saya menunggu lama sehingga bisa menjumpai Si Rasional kembali. Kali ini, kami bertemu di tepi danau, di suatu negara tempat kita bisa menatapi beruang-beruang kutub bermain dengan bola es di kejauhan. Si Rasional sedang berdiri dan memasukkan tangannya ke saku saat saya menghampirinya. Saya meneguhkan pendirian dan berkata,

“Tahu tidak? Aku akan berusaha hingga suatu hari aku bisa ikhlas saat mendapatkan hidup yang jauh dari segala hal-hal yang menantang. Aku akan berusaha sehingga saya tidak apa-apa, jika suatu hari aku terikat di suatu tempat, pada titik yang aku bosani setengah mati, asalkan aku yakin, Allah meridhai langkahku.” Aku menatap Si Rasional dengan tatapan menantang, “Cukup?”

Dia tertawa kecil, “Lho, bukankah cinta pada hal yang kau lakukan adalah bagian dari ibadah itu sendiri?”

Giliran saya bingung. Si Rasional melangkah pergi sambil bersenandung kecil. Saya buru-buru mengejarnya, “Hei tunggu, jelaskan dulu maksudmu!”

“Tidak mau!” Teriak Si Rasional dari kejauhan,”Pikirkan saja sendiri!”

Berjalan Pelan-Pelan

Tiap hari, saat jadwal latihan aikido tiba dan saya sedang memperagakan sebuah gerakan, ada satu kalimat khas yang sering saya dengar dari pelatih-yang saya panggil sensei-itu. “Pelan-pelan Ade! Ya, pelan-pelan.”

Biasanya setelah dikatakan seperti itu oleh Sensei, saya akan berusaha bergerak lebih pelan. Meski nanti, saya lagi-lagi tergiur untuk mencoba gerakan-gerakan cepat seperti yang dicontohkan Sensei, yang nantinya akan saya sesali. Sebab dengan meniru gerakan Sensei tanpa teknik yang benar, berarti saya sudah melakukan 2 kekonyolan: melakukan teknik yang salah total dan mencederai ukke atau kawan latihan saya.

Setelah saya renungkan baik-baik, saya menyadari: Ini adalah masalah kapasitas diri, dihubungkan dengan kecepatan gerak.

Manusia, saat bergerak dalam kehidupannya, jika gagal mengukur kapasitas diri, maka ia akan gagal dalam hidupnya. Karena jika dia mampu bergerak cepat, lalu ikut dalam arus yang lambat, dia akan bosan dan kemampuannya akan menurun dan melemah. Sebaliknya, seorang yang sangat lamban, dipaksa untuk ikut dalam dinamika waktu dan tempat yang luar biasa cepat, maka dia akan gagap, lalu tertinggal dan musnah dalam pusaran waktu.

Demikianlah yang terjadi pada saya saat latihan. Karena saya gagal mengukur kapasitas diri, maka saya bergerak cepat, mengikuti contoh dari gerakan Sensei yang memang luar biasa: cepat dan terukur. Dan tentu saja saya gagal total. Sebab saya dan Sensei memang sangat jauh berbeda dalam hal kemampuan. Saya berada di Kyu 6 atau Kyu dasar. Sedang Sensei di Kyu 1, Kyu tertinggi. Wow! Maka bayangkan bagaimana konyolnya seekor katak mencoba meniru bangau. Begitulah…

Maka disinilah bukan masalah cepat atau pelan. Namun disini masalahnya adalah kecepatan yang sanggup kita pikul. Dalam kasus aikido tadi, Sensei bergerak cepat karena dia memang mampu, dia sudah ahli dan semua sudah masuk dalam kapasitasnya. Tapi saya belum! Sehingga mengikuti kecepatan Sensei adalah hal terdungu yang bisa saya lakukan. Bandingkan jika saya sudah seahli Sensei, tentu saya bahkan bisa melakukan gerakan itu sampai terbang :D

Ya, inilah intinya: bukan masalah bergerak cepat, namun bergerak secepat yang kau bisa.

Selanjutnya, setelah mampu menemukan kecepatan yang tepat dengan kapasitas diri, berikutnya  adalah menambah kecepatan dalam hidup, sedikit demi sedikit. Kenapa ini perlu? Sebab pohon tidak akan menumbuhkan akarnya hingga menghujam bumi jika dia tidak tumbuh di ladang tandus. Maka seperti itulah manusia. Jika dia tumbuh di tengah kesulitan, maka ia akan semakin berkembang dan melangit, dengan kaki menapak bumi. Penambahan kecepatan akan menumbuhkembangkan diri kita, menjadi semakin baik dan besar sebagai sebuah jiwa.

Setelahnya, jiwa kita akan tumbuh terus, dan terus. Menghujam ke bumi dan menjulang ke langit. Sebagaimana gambaran muslim yang sempurna.

Tapiii… bagaimana jika kita kemudian tidak sanggup bertahan dalam kecepatan yang telah kita jalani? Murobbi saya memberi satu petuah cerdas,

“Jika kalian merasa penat, dan tidak mampu mengikuti arus dakwah yang cepat ini, maka tidak mengapa jika kalian meminta agar geraknya diperlambat. Mintalah pengertian. Ibarat naik kendaraan. Jika kalian merasa kendaraan itu terlalu cepat, maka kalian lebih baik meminta supirnya melambat, ketimbang kalian buru-buru turun.”

Inilah hasil perenungan saya di gua beruang *menutup gulungan daun terakhir :D

*saat sedang berusaha tenang meski gelisah

bear

Menulis dengan Jujur

Sejak ikut workshop Tere-Liye kemarin, saya sering mengangkat pena dan berpikir panjang untuk menulis. Saya banyak merenungi kualitas dan alasan mengapa saya menulis. Singkatnya, saya mulai ketakutan.

Kenapa? Sederhana saja. Awalnya saya menulis untuk diri saya sendiri: untuk melepaskan luka, untuk memotivasi, menjernihkan isi kepala, dan lain sebagainya. Lalu hingga belakangan saya sadar bahwa saya mulai menulis untuk orang lain. Hingga banyak komentar, pujian, sanjungan, celaan, bahkan ejekan.

Saya ketakutan.

Saya takut bahwa pada akhirnya setiap momen dari tulisan saya, bahkan yang dalam diary sekalipun, yang paling privat sekalipun, semua saya tuliskan untuk seseorang, siapapun itu. Saya khawatir bahwa saya tidak mampu lagi menulis secara jujur, sebab selalu ada tuntutan dalam diri. Tuntutan untuk menulis dengan baik, tepat, efisien, kreatif, menarik, dan bermanfaat. Tulisan itu harus mampu mencerahkan, tidak bisa tidak.

Dengan memanggul pemikiran-pemikiran itu, saya sadar bahwa tulisan saya mulai bergerak ke dasar jurang. Menulis itu harus dilakukan dengan senang, itu kata Tere-Liye. Nikmatilah menulis sebagai sesuatu yang melepaskan. Tapi lama kelamaan saya sadar bahwa saya cenderung melepaskan hal-hal tersebut dari tulisan saya. Menulis diary pun, saya berpikir untuk menulis dengan puitis ketimbang menulis hal yang benar-benar ingin saya tulis.

Misalnya saja, untuk mengisahkan kecintaan saya akan hujan, ketimbang menulis, “Hujan. Asiiiik…”, saya akan menulis, “Mengisahkan pucuk-pucuk daun yang merindui hujan. Dengan apa cinta harus diutarakan?”

Saat saya membaca ulang diary saya, saya menyadari perbedaan besar antara diary saat saya SMA dengan saat saya kuliah. Diary SMA penuh dengan bahasa saya yang masih SMA, berkisah dengan serunya tentang cinta monyet, abang kelas yang saya diam-diam ngefans dan menyapa saya sekali seumur hidup, penjual gorengan di yang sering ngasih bonus, kawan yang galak dan pemarah… semua mengalir dengan bahasa saya. Karena tulisan itu untuk saya. Ya…

Bandingkan dengan diary kuliah saya, semuanya berwujud bahasa puitis, kebijaksanaan yang dipaksakan, motivast-motivasi yang ditulis dengan bahasa rapi… dan saya tersadar: ini bukan saya. Bukan saya yang bicara seperti ini. Bukan bahasa saya yang seperti ini. Lebih buruk lagi, saya terakhir sadar bahwa saya menulis seperti itu karena sudah tertanam dalam diri saya bahwa menulis itu untuk orang lain. Jadi bahkan saya memperlakukan tulisan dalam diary sebagaimana tulisan yang bisa dibaca orang lain!

Oow… @__@

Saya sadar bahwa kesenangan menulis adalah kesenangan yang sangat amat berbeda. Kesenangan menulis lahir saat kita sadar kita sedang merekam jejak sejarah dengan kata-kata. Tulisan beda dengan lukisan atau foto, yang sama-sama berniat merekam sejarah. Tulisan itu hadir dalam rekaman yang lebih konkrit dan gamblang, serta abstraksi yang lebih rendah ketimbang lukisan atau foto. Makanya, saya ingin meraih tulisan itu dengan kesenangan akan menulis. Saya ingin menulis tentang cinta gorila masa kuliah pada seorang dosen baik hati, kawan sekelompok koass yang nyebelin, FLP dan bagaimana saya bisa jatuh cinta berkali-kali padanya… saya ingin menuliskannya dengan bahasa saya. Bahasa saya sendiri! Bahasa seorang Ade Oktiviyari.

Ya, saya ingin menuliskannya.

Aceh Hana Pungo

Akhir-akhir ini, pikiran saya sedang kacau. Sekacau Aceh yang tengah bergolak. Sejak malam tahun baru, kasus penembakan misterius terjadi tiap hari. Diawali dari daerah Ulee Kareng, lalu ke Bireuen, hingga hari ini terjadi di daerah Aneuk Galong.

Apa yang sedang terjadi disini?

Entahlah. Yang saya tahu hanyalah, prasangka sedang terbangun di sini. Korban penembakan sebagian besar adalah orang Jawa atau keturunan Jawa, dan pelaku penembakan tidak terbaca, apakah mereka adalah tentara, mantan GAM, ataupun siapa saja. Bisa jadi mereka yang melakukannya bersuku Aceh, bisa jadi juga tidak. Yang pasti adalah, aktor di belakang ini benar-benar bukan manusia. Mereka mencoba mengobok-obok Aceh. Karena iri dengki pada syariat mungkin, terlalu banyak tangan mencoba mengusik Aceh ini. Dan ini mungkin puncaknya, atau saat menuju puncak.

Ah, dengan apa bisa saya katakan kemarahan ini?

Perhatian dunia saat ini sedang tertuju pada Aceh. Sebenarnya, bukan saat ini saja. Tapi sudah lama, sejak konflik: DOM, Referendum, lalu tsunami, hingga penetapan syariat. Semua pandangan mata mengarah dengan menuduh pada Aceh. Mungkin mereka islamphobia, atau hanya tertarik. Meski demikian, apa bedanya? Toh pandangan mereka mengusik. Dan lahirlah berita bahwa Amnesti Internasional mengatakan bahwa hukum cambuk di Aceh melanggar HAM. What? Bahkan cambuk itu tidak sakit! Coba tanyakan saja pada orang yang pernah dicambuk! Benar-benar lelucon yang tidak lucu.

Setelahnya, WH semakin disfungsi. Namun media nasional selalu bisa mengobral cerita ‘lucu’ dari tanah ini, mulai berkisar perebutan kekuasaan para kombatan, hingga bencana alam yang silih berganti. Yang paling lucu sepanjang tahun 2011, mungkin masalah punk. Bayangkan, penggundulan 2 orang anak punk dan mendadak telepon berdering, dari 2 Dubes negara nan jauh yang berbaik hati menasihati pemerintah Aceh, bahwa anak-anak punk itu punya hak untuk bebas berekspresi. *LOL deh :D

Makin lucu saja ketika gelombang protes terhadap kasus punk Aceh itu mencuat ke media. Banyak yang berjanji membela, ada yang mengejek, ada yang makan bakwan, beraneka ragam. Huah, segitu luar biasa menariknya segala isu dari Aceh.

Sekarang, apa lagi?

Orang-orang Jawa yang ditembak di Aceh (bukan ‘tertembak’ ya) diberitakan dengan judul: “Damai yang Terkoyak”, “Siapa Bermain di Aceh?” etc, dll.

Stop it.

Sudah cukup kita dibesarkan dengan prasangka, mata-mata liar, dan azas bersalah sampai terbukti tetap bersalah meski tidak bersalah. Sudah lebih dari cukup sepertinya. Saatnya kita belajar untuk mengendalikan marah dan prasangka. Pelakunya bisa saja bukan tentara, bukan GAM, bukan suku Aceh, bahkan bukan manusia. Pelaku penembakan saat ini bisa jadi hanya sekelompok alien yang nyasar ke bumi, lalu menemukan pistol dan bermain-main hingga menembak sekelompok orang. Bisa jadi kan?

Meski Tari Saman adalah tarian Aceh, dan sejarah Aceh diwarnai perang, namun bangsa Aceh adalah bangsa yang mencintai kedamaian. Cinta pada Allah, ulama, dan senang memakmurkan mesjid. Teruslah seperti itu. Biarkan saja orang-orang gila berbuat makar di Aceh, namun Aceh kita, tetap teguh sebagai Serambi Mekkah.

Bisa jadi, semua ini adalah teguran dari Allah untuk kelalaian kita dalam menjalankan syariat-Nya. Maka bisakah kita, bergegas menghampiri surau, mesjid, dan mushalla saat adzan ketimbang warung kopi?

Aceh pasti bisa. Semoga Allah selalu bersama Aceh dan kedamaian.

Sekian.

Surat Mendung untuk Desember

Assalamu’alaikum…
Apa kabar hari Desember? Semoga selalu bersinar dengan cahaya keperakan di langit.

Hari Desember, tahukah Engkau? Betapa aku menyukai warnamu yang penuh dengan keredupan. Hujan yang turun rintik-rintik lalu menderas, kilat yang menyambar, angin yang menggetarkan tiap atap dan mengolengkan tiap Read the rest of this entry »

Di Belantara Anastesiologi

*ambil kemoceng dan sikat. Lap sana sini, cungkil lumut sana sini.

Alhamdulillah! Apa kabar semua? Sudah lama sekali saya meninggalkan laman maya ini untuk terjun dalam antah berantah yang tidak saya pahami: anastesiologi. Tapi saya bersyukur Allah masih memberikan kemudahan sehingga saya bisa kembali menyesakkan laman ini. Adakah yang merindukan tulisan saya ? :D

Banyak yang saya dapatkan dalam waktu perpisahan kita yang panjang ini. Saya misalnya belajar bahwa hidup itu berarti banyak mengalah pada kemanusiaan. Di bagian anatesiologi atawa kamar bius, saya belajar bahwa sedikit kekonyolan seorang dokter bisa membunuh pasiennya. Saya juga belajar bahwa kehadiran dan pertanyaan, sedikit saja, bisa memberi arti banyak bagi orang yang sakit dan menderita. Saya belajar berbagi senyum, meski tidak selalu berhasil. Read the rest of this entry »